JOEY: I Dedicated My Chilhood To Jazz

Bila Denny Sila dan Fara semata mengejar popularitas, bisa jadi Joey Alexander tak akan menjadi jazz prodigy seperti saat ini.

@

Pada usia 11 tahun Herbie Hancock mendapat julukan anak ajaib karena kepiawaiannya memainkan komposisi Mozart dengan piano. Sejak saat itu Herbie berkembang menjadi musisi jazz dunia. Pengaruhnya di industri musik global terasa kuat sampai saat ini.

Pada tahun 2011 Herbie Hancock berkunjung ke Jakarta. Sebagai duta UNESCO ia didaulat mengikuti talk show bertema musik. Kedatangannya itu mempertemukannya dengan pemain piano berumur 8 tahun; Joey Alexander.

Joey menjadi penampil musik dalam talk show yang dihadiri Herbie tersebut. Ia memainkan Watermelon Man di atas tuts pianonya, lagu tahun 1962, lagu yang ikut membesarkan Herbie Hancock.

Herbie sangat terkesan dengan permainan Joey. Demikian pula sebaliknya, pertemuan itu menjadi satu titik awal dalam kehidupan Joey. 

“That was the day I decided to dedicate my childhood to jazz,” kenang Joey Alexander mengingat pertemuan itu.

@

Odessa adalah kota pelabuhan di Selatan Ukrania. Kota itu menyimpan keindahan dalam bangunan-bangunan abad ke-19 yang megah di beberapa penjuru kota, juga pantai berpasir putih yang menghadap laut Hitam.

Sejak tahun 2000 kota itu rutin mengadakan festival jazz berskala internasional. Odessa memang akrab dengan jazz. Sejak awal abad ke-20 Odessa menjadi pionir tumbuhnya jazz di Ukrania dan negara-negara sekitarnya.

Jazz pula yang mengakrabkan Odessa dengan Joey Alexander. Pada bulan Juni 2013  Joey melawat ke Odessa untuk mengikuti Grand Prix 1st International Festival – Contest of Jazz Improvisation Skill. Sebanyak 43 peserta dari 16 negara unjuk skill memainkan jazz dengan instrumen yang mereka kuasai untuk menjadi yang terbaik. Joey Alexander dengan pianonya berhasil menjadi pemenang.

@

Video youtube itu diunggah pada 30 Desember 2013. Sampai saat ini ada 420 ribuan orang yang telah menontonnya. Video berdurasi 14 menit itu menampilkan Joey Alexander memainkan 3 lagu di studio musik milik iCanStudioLive di Jakarta.

Di akhir video, dengan suara cadelnya, Joey berkata:

Heloo! Nama saya Joey Alexander. Usia saya 10 tahun. Dan…Saya main piano, saya jazz pianis, dan saya seneng sama studio ini, dan I hope ini akan bawa saya… sukses and also…For this studio i hope, I hope this studio will keep going.

Harapan Joey di akhir video itu terkabul beberapa waktu kemudian. Permainannya viral sampai ke New York. Ia diundang mengikuti salah satu ajang jazz prestisius di sana.

“…We recognize his artistry and musicianship and would be honored to present him to our American audiences in New York City.” Jason Olaine- Director of programming and Touring for Jazz at Lincoln Center.

@

Apollo Theater terdaftar sebagai bangunan bersejarah di Amerika. Gedung pertunjukan musik itu sudah mulai menampilkan musisi Amerika sejak tahun 1934. Pada Oktober 2014 para legenda jazz Amerika berkumpul di sana. Mereka menghadiri event tahunan ‘A Great Night At Harlem’ kali ke-13.

Malam itu juga menjadi malam spesial bagi Herbie Hancock. Jazz Foundation Of America memberinya penghargaan Lifetime Achievement Award. Herbie menjadi bintang malam itu.

Malam itu Herbie tidak sendiri. Ia membawa seorang ‘teman lama’ dari Indonesia; Joey Alexander. Tepat sebelum Herbie maju ke panggung untuk menerima penghargaan, Joey mencuri perhatian penonton dengan lantunan Round Midnight-Thelonious Monk dari pianonya.

“Wasn’t it amazing…” komentar Herbie Hancock melihat penampilan Joey. “He’s taken my job away from me.”

@

Joey Alexander telah mencuri perhatian dunia jazz, setidaknya Herbie Hancock, sejak tahun 2011. Namun dentingan pianonya masih terdengar samar di Indonesia. Prestasi internasionalnya masih kurang populer dengan kejadian dan peristiwa lain di negeri ini. Setidaknya sampai tahun ini, sampai ia masuk ke dalam nominasi penghargaan musik paling bergengsi di Amerika, bahkan dunia, Grammy Award.

Satu hal yang patut disyukuri Joey adalah kedua orang tuanya, Denny Sila dan Fara. Bila Denny Sila dan Fara semata mengejar popularitas, bisa jadi Joey Alexander tak akan menjadi jazz prodigy; keajaiban dalam dunia musik jazz seperti saat ini.

(Tulisan ini saya buat bulan April 2016. Pernah saya publish untuk proyek blog yang tak berkelanjutan. Foto saya unduh dari website Joey; http://joeyalexandermusic.com/)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s