Membaca J.K. Rowling

Career Of Evil, seri ketiga novel karangan J.K. Rowling dengan nama pseudonim Robert Galbraith baru saja dirilis di Indonesia. Membaca novel itu akan menyeret imaji pembaca menelusuri lorong-lorong misteri di London, juga membangkitkan kisah tentang hubungan canggung antara detektif Cormoran Strike dengan asistennya yang cantik menawan, Robin Ellacot. J.K. Rowling adalah jaminan untuk sebuah cerita berkualitas. Bukan karena wanita 51 tahun itu penulis serial Harry Potter yang mendunia itu, namun karena ia selalu menulis dengan segenap hati dan jiwanya.

@

Sejauh yang pernah ia ingat, Joanne K Rowling selalu bermimpi menjadi seorang pengarang. Ia menyelesaikan cerita pertamanya pada usia 6 (enam) tahun; tentang kelinci bernama Rabbit.

Waktu berjalan dan menyeret J.K. Rowling ke ruang yang penuh sesak dengan kepedihan. Ia bercerai setelah masa pernikahan yang singkat, menjadi orang tua tunggal, dan tidak memiliki pekerjaan tetap.

“I was set free,” ujar J.K. Rowling mengingat saat-saat itu, because my greatest fear had been realised, and I was still alive, and i still had a daughter whom i adored, and i had an old typewriter and a big idea.”

J.K Rowling menggambarkan dirinya saat itu berada di sebuah labirin gelap. Ia tak tahu kapan dan dimana labirin itu akan berakhir. Namun, J.K. Rowling terus menulis.

Sampai pada sebuah perjalanan kereta Manchester-London, seorang anak laki-laki dengan syal, berkacamata bundar, yang tinggal bersama paman dan bibinya dan tidak menyadari bahwa dirinya adalah seorang penyihir hinggap di benak J.K. Rowling. Sejak saat itu, saat Jessica, anaknya, tertidur dalam strollernya, J.K. Rowling bergegas menuju kafe dan menulis secepat-cepatnya.

Hasilnya adalah sebuah novel yang menjadi masa kecil puluhan juta anak di seluruh dunia; Harry Potter.

@

The fame thing is interisting because I never wanted to be famous, and I never dreamt i would be famous. J.K. Rowling.

Seringkali orang-orang yang fokus dengan karyanya, dan tidak memikirkan tentang popularitas atau uang, terkaget-kaget melihat dirinya di dunia ketika karya itu akhirnya selesai dan beredar.

Riuh rendahnya sambutan orang, J.K. Rowling tetaplah orang tua tunggal yang kadang tidak mempunyai ide tentang siapa orang yang bisa dipanggil untuk menata rambutnya. Ia tetap menjalani kehidupan seperti biasanya.

Dan kenyataan bahwa apa yang ingin dilakukan sepanjang hidupnya hanyalah menulis membuatnya mampu lepas dari ketenaran Harry Potter yang memabukkan.

J.K. Rowling bisa saja menuliskan seri Harry Potter yang ke-8 dan bukunya itu akan kembali membanjirinya dengan jutaan bahkan miliaran poundsterling. J.K. Rowling memiliki kapasitas untuk itu. Ia mempunyai deskripsi yang lengkap, yang tidak semuanya muncul di dalam buku, untuk setiap karakter juga dunia sihir ciptaannya. Tapi, untuk saat ini, J.K. Rowling merasa bahwa serial Harry Potter yang ada sudah cukup menyampaikan apa yang dia yakini. Harry Potter bukan masalah uang.

Sebagai gantinya J.K. Rowling menulis sebuah novel untuk dewasa tentang interaksi masyarakat di sebuah kota kecil berjudul The Casual Vacancy. Ia tidak terbebani dengan kesuksesan Harry Potter karena J.K. Rowling tidak pernah menulis untuk popularitas dan uang

With this book (The Casual Vacancy) the most important thing to me was that I’m satisfied.” J.K. Rowling.

@

Pada era dimana setiap orang berlomba-lomba mengunggah sesuatu ke laman maya mereka adalah sebuah paradok ketika seorang penulis besar merasa bahwa karya-karyanya tidak harus dipublikasikan.

J.K. Rowling menulis untuk memuaskan dan bersenang-senang dengan dirinya sendiri. Ia jarang memperhatikan pembaca (hanya memperhatikan apakah buku anak atau dewasa). Sebuah ide datang dan J.K. Rowling akan menyelesaikannya menjadi sebuah buku.

“I will definitely still be writing. Will I publish? I don’t know.” J.K. Rowling.

Menulis, bagi J.K. Rowling, bukanlah ajang pamer, pembuktian diri, ataupun mencari popularitas. Ia terus mencoba menulis dengan tenang, bebas, terhindar dari ekspektasi berlebihan. Hal inilah yang membuat ia memakai nama pseudonim Robert Galbraith dan menuliskan sebuah novel dewasa bergenre kriminal; The Cuckoo Calling’s, The Silkworm, dan yang terbaru Career Of Evil.

@

J.K. Rowling selalu melakukan riset yang dalam sebelum memulai penulisan novelnya. Cormoran Strike, tokoh utama dalam novel detektifnya, merupakan tokoh fiksi yang mempunyai karir dan pengalaman berdasarkan kehidupan sebenar-benarnya seorang tentara. J.K. Rowling banyak menggunakan sumber-sumber militer untuk menghidupkannya.

Pada Career Of Evil, dimana Cormoran Strike berhadapan dengan seorang pembunuh berantai, J.K. Rowling melakukan riset mendetail tentang kehidupan pembunuh berantai yang akhirnya menghantui dan menjadi mimpi buruknya.

J.K. Rowling berusaha sebaik mungkin memahami cara berpikir, ‘bahasa’, apa yang mereka rasa, bahkan gesture dan gerak tubuh mereka demi Career Of Evil.

I always know way more than I need to know. I have backstory on every character that i didn’t need. And, in fact, some of it was in the novel and I took it out. I just need to know much more than the reader does.” J.K. Rowling.

@

Dengan apa yang sudah dilakukan J.K. Rowling dalam hidupnya, dalam dunia kepenulisannya, maka Career Of Evil adalah sebuah karya yang sangat layak untuk dibaca. Disana bukan hanya ada Cormoran, Robin, plot yang padat, cerita menarik, misteri yang mengusik, tetapi juga segenap hati dan jiwa seorang J.K. Rowling.

(tulisan ini saya buat bulan April 2016 untuk proyek blog yang gagal. Foto saya unduh dari http://bibliodaze.com/)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s