Menjadi Manusia Bersama Inarritu

Keberhasilan Leonardo Di Caprio meraih Oscars pertamanya di ajang Academy Awards ke-88 menyita perhatian dunia. Namun sejarah juga diukir Alejandro Gonzales Inarritu dengan menjadi orang ketiga di industri film yang meraih Oscars dua tahun berturut-turut sebagai Best Director. Pertama lewat film Birdman di 2015, kemudian The Revenant di 2016. Lebih jauh, Inarritu adalah sutradara kelahiran Meksiko yang menganggap film superhero sebagai genosida kultural.

@

Birdman adalah film tentang seorang mantan bintang film superhero yang mencoba meraih kembali popularitasnya lewat jalur teater. Saya tidak bisa menikmati ceritanya sampai membaca wawancara beberapa media kepada Alejandro Gonzales Inarritu sang sutradara.

“Film superhero tidak bermakna. Film itu seperti sebuah kotak yang saat kamu membukanya terdapat kotak lain di dalamnya, dan ketika kamu membuka kotak kedua akan menemukan kotak ketiga, dan begitu seterusnya. Film itu tidak membawamu menemukan sebuah kebenaran.” Inarritu.

Saya menemukan konteks perkataan Inarritu dalam Birdman. Riggan Thomson, tokoh utama, menemukan fakta bahwa dirinya yang sempat menjadi bintang terkenal saat memerankan tokoh superhero di masa muda mengalami krisis identitas di kemudian hari. Perannya di masa lalu seperti tidak meninggalkan impresi, tidak membawanya kepada ketenaran abadi, tak bermakna.

Saya menonton ulang Birdman. Mencermati dengan lebih sabar, dan ternyata mulai menikmatinya.

@

“Saya selalu melihat film-film superhero sebagai cerita pembunuhan terhadap orang-orang yang tidak mempercayai apa yang kamu yakini, atau pembunuhan terhadap orang-orang yang tidak mau menjadi seperti apa yang kamu inginkan. Saya membenci hal itu. Para penonton telah diracuni, ini adalah genosida kultural, para penonton dicekoki plot, ledakan, dan hal-hal tidak penting lainnya yang tidak memberikan makna apapun dalam pengalaman mereka sebagai manusia.” Inarritu.

Seberapapun kerasnya kritik Inarritu terhadap Hollywood yang mendewakan film-film superhero tak akan menginsyafkan mereka untuk terus memproduksinya. Film superhero adalah ladang uang. Deadpool, Transformers, The Avengers telah membuktikan bahwa genre inilah yang akan memberikan miliaran dollar amerika ke pemodal Hollywood.

“Kamu berkata pada mereka (pemodal) agar menginvestasikan 20 juta dollar amerika untuk membuat sebuah film yang bagus dan mereka akan mendapatkan 80 juta dollar. Itu adalah sebuah bisnis yang sangat fantastis. Tapi, mereka akan berkata “”80 juta dollar? Saya ingin 800 juta dollar!”” Tempat untuk film yang bagus telah hilang. Uang telah mengambil alih semuanya.” Inarritu.

Birdman, film terbaik Oscars 2015, ‘hanya’ mampu menghasilkan 103 juta dollar amerika. Bandingkan dengan Deadpool yang mengantongi 314 juta dollar amerika, atau The Avengers 623 juta dolar Amerika.

@

“Beberapa sutradara tidak pernah mengisi sendiri bahan bakar mobilnya selama 25 tahun, atau tidak pernah bekerja membuat iklan dalam kurun waktu itu. Saat kamu mulai kehilangan sentuhan dengan kehidupan, you’re fucked. Kamu punya kantong berisi berbagai macam emosi, dan kamu akan memahaminya dengan hidup di dunia nyata. Saat kamu menjadi seseorang yang tidak dapat dikritik karena merasa dirimu sebuah ikon, kamu telah masuk perangkap. Menjadi selebriti seperti itu sangat menakutkan. Mereka menjadi sebuah objek, bukan manusia.” Inarritu.

Dalam suasana kebatinan seperti itulah Alejandro Gonzales Inarritu mengkreasikan Birdman, film terbaik Oscars 2015, dan membuatnya meraih penghargaan pertama sebagaiBest Director. Padahal, yang dilakukan Inarritu ‘hanya’ sebuah hal sederhana; membuat film yang manusiawi.

“Hopefully, when people see this film and think about it a little bit, I hope they can see themselves.” Inarritu

@

Kurang lebih 15 jam sejak menerima Oscars pertamanya Alejandro Gonzales Inarritu sudah bersiap terbang ke Kanada untuk meneruskan pengerjaan film The Revenant. Tak ada perayaan berlebih untuk Birdman yang baru saja menyabet 4 penghargaan Oscars, dan Inarritu merasa hal itu_terus bekerja meski baru mendapat penghargaan _sangat sehat untuk egonya.

“It didn’t allow me to be masturbating myself with awards,” komentar Inarritu.

@

Emmanuel Lubezki atau biasa dipanggil Chivo adalah sinematografer Hollywood. Pemilik akun instagram @chivexp ini mempunyai keinginan terlibat dalam sebuah film petualangan. Namun, saat sebuah tawaran datang ia merasa ragu. Bagaimana tidak, Alejandro Gonzales Inarritu sang sutradara menawarkan sebuah film yang tak pernah terbayangkan. Proses syuting film itu direncanakan dilakukan di alam liar, dengan cahaya alami, dalam cuaca dingin yang ekstrim. Chivo mengungkapkan keraguannya pada Inarritu.

Dan Inarritu menjawab: “We have to do it right now. We’re middle-aged and this could be the last time we can do something like this.”

Kata-kata Inarritu membuat Chivo menceburkan diri dalam proyek The Revenant.

@

The Revenant bersetting tahun 1823 di pedalaman Amerika. Bercerita tentang Hugh Glass, diperankan Leonardo Di Caprio, salah seorang anggota rombongan pemburu yang harus berhadapan dengan ganasnya alam, penghianatan, dan kehilangan.

Proses syuting sebagian besar dilakukan di pegunungan Canadian Rockies, Calgary, Kanada. Salju tebal, medan yang sulit, dan suhu mencapai minus 40 derajat adalah kondisi yang dihadapi para pemain dan kru selama syuting berlangsung.

“A film like this is homage to the original cinema tradition, where the directors went to the places, and risked challenges. I passionately believe that that should be an example of how film should be committed.” Inarritu.

Inarritu tampaknya ingin menghadirkan sesuatu yang benar-benar nyata untuk filmnya ini. Ia tidak menggunakan penerangan buatan, Inarritu hanya mengandalkan sinar matahari yang membuat waktu syuting menjadi terbatas. Dalam sehari hanya dua jam matahari bersinar cukup terang. Namun hal itu terbayar tuntas karena sinar alami membuat kamera digital Chivo menangkap lanskap yang natural dan magis yang tersaji dalam petualangan Hugh Glass di sepanjang film.

Pun dengan adegan longsor salju. Alih-alih menggunakan green screen di dalam studio, Inarritu memilih merakit bom kecil yang dapat memicu turunnya longsor salju sungguhan.

“The avalanche, you can do it digital, but i swear, but if you put it back to back…We have lost the taste for real.” Inarritu.

@

Pada ajang Oscars ke-88 The Revenant mengantarkan Alejandro Gonzales Inarritu mendapatkan penghargaan sebagai Best Director dan Emmanuel ‘Chivo’ Lubezki untukBest Cinematography. 

Penghargaan yang diterima Chivo untuk The Revenant melengkapi koleksi Oscarsnya menjadi tiga, yang diperolehnya beruturut-turut dalam tiga tahun terakhir. Selain itu The Revenant juga memantik kesadaran baru dalam pikiran Chivo.

“When we are talking about climate change and you are in an office in Los Angeles and they say the temperature might change two degrees, you think, well, I’ll just take my sweater off. But when you are there (Calgary, Kanada) and you realize that half a degree is the difference between liquid and ice, and that you are not going to get snow and your set is going to disappear because it’s too warm, suddenly you start thinking very differently.” Emmanuel Lubezki.

Apa yang ingin disampaikan Inarritu melalui The Revenant memang erat kaitannya dengan hubungan manusia dengan alam. Tentang interaksi para pemburu dengan liarnya alam Amerika tahun 1823 dan seluruh komponennya; perburuan dan suku asli. Tentang bagaimana posisi manusia di sebuah tempat bernama bumi.

“They (fur trappers in 19th century Montana) were absolutely present and constantly aware of nature, so for me it was very interesting to explore that sensorial way of living; a human being as beast, as a creature, and how it felt because we have change vastly in the last 150 years.” Inarritu.

Sekali lagi Inarritu mengajak penontonnya memahami arti menjadi seorang manusia.

(Tulisan ini saya buat Maret 2016 untuk proyek blog saya yang gagal. Foto saya peroleh dari www.indiewire.com )

Advertisements

2 thoughts on “Menjadi Manusia Bersama Inarritu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s