Permainan Psikologi Claudio Ranieri

Ada beberapa perkara yang menjadi kunci kegemilangan Leicester City di Liga Primer Inggris musim ini (2015-2016). Salah satunya kemampuan Claudio Ranieri menjaga mood bertanding Jamie Vardy dkk di setiap laga. Memulai musim dengan fantastis (tak terkalahkan dalam enam pertandingan awal) Leicester City terus bertahan di papan atas klasmen dan kini menjadi kandidat kuat juara.

Claudio Ranieri kuasa membuat The Foxes -julukan Leicester City- bermain dengan determinasi tinggi sepanjang 90 menit. Di lapangan, pelatih 64 tahun ini seakan-akan memiliki sebelas serdadu siap mati daripada sekadar pemain bola.

Bagaimana Ranieri melakukannya?

1. Kasabian

Pertandingan pertama Leicester City di Liga Primer Inggris 2015-2016 dihelat di King Power Stadion melawan Sunderland. Claudio Ranieri menyiapkan kejutan dengan memutar sebuah lagu berjudul Fire dari band rock asal Leicester bernama Kasabian sebelum pertandingan.

“When you hear the song from Kasabian, that means they (the fans) want warriors,” ujar Ranieri di ruang ganti.

Hasilnya Leicester berhasil menundukkan Sunderland dengan skor 4-2.

Apakah lagu itu benar-benar memberikan tambahan gairah bermain para pemain Leicester?

Slaven Bilic meragukannya. Pelatih West Ham United itu bahkan berseloroh akan membeli seluruh album Kasabian bila dapat membawa timnya meraih kemenangan.

Leicester City melawat ke Upton Park, kandang West Ham United pada pertandingan kedua. West Ham pada laga pertama secara mengejutkan menundukan Arsenal di Emirates dengan skor 2-0.

Dua gol dari Riyad Mahrez dan Shinji Okazaki hanya mampu dibalas sekali oleh Dimitri Payet. Leicester menang 2-1.

Slaven Bilic tak perlu membeli album Kasabian karena @KasabianHQ, akun twitter resmi Kasabian, dalam satu kicauannya berjanji akan mengirimkan semua albumnya.

2. 40 Poin!

Pada awal musim Claudio Ranieri berulangkali menegaskan bahwa selama Leicester City belum mendapatkan 40 poin, tak ada gunanya membesar-besarkan kemenangan yang diperoleh, juga membicarakan kemungkinan lain (masuk ke zona Eropa atau juara). Poin 40 diyakini menjadi batas aman tim Liga Primer terhindar dari degradasi. Setiap pemain The Foxes paham hal itu.

Pada pekan ke-13, Leicester City meraih kemenangan 3-0 atas Newcastle United yang membuat mereka bercokol di puncak klasmen.

“We’re top of league but it’s not important now,” ujar Ranieri kala itu. “What’s important for us is we have 28 fewer points to achieve our goal (40 points).”

Memuncaki klasmen setelah 13 laga tentu saja pencapaian besar bagi Leicester City. Namun Ranieri seolah ingin “menjaga” mental pemainnya. Ia ingin mereka hanya fokus pada setiap pertandingan yang akan dijalani.

Hasilnya Leicester City terus bermain trengginas. Setelah menahan imbang Manchester United pada pekan-14, mereka mampu meraih tiga kemenangan berturut-turut. Termasuk dengan mengalahkan juara bertahan Chelsea dan tim kuat asuhan Roberto Martinez, Everton.

Pada pekan ke-20 Leicester City mendapatkan 40 poinnya. Claudio Ranieri menyatakan musim baru saja dimulai.

3. We are normal team

Laga pekan ke-5 melawan Aston Villa bisa jadi merupakan salah satu pertandingan terberat bagi Leicester City. Babak pertama mereka tertinggal dua gol. Tidak hanya itu, The Foxes  juga kalah dalam setiap duel perebutan bola, jumlah tekel, juga penguasaan bola.

Jeda babak pertama Claudio Ranieri berujar kepada para pemainnya. “If we fight we are very good team. If we don’t fight we are normal team.”

Setelah empat laga tanpa kekalahan Leicester City menyambut kedatangan Aston Villa dengan kepercayaan diri tinggi. Terlebih pertandingan dihelat di King Power Stadium. Namun, skor dan permainan babak pertama seolah menunjukkan bahwa Leicester City sejatinya tim biasa-biasa saja.

Ranieri mencoba mengembalikan kesadaran itu kepada setiap pemainnya. Tanpa determinasi tinggi selama 90 menit, Leicester City akan kesulitan menang melawan siapa pun.

Pertandingan menyisakan waktu 20 menit sebelum Ritchie De Laet mencetak gol untuk Leicester. Kemudian Jamie Vardy ikut menyumbang gol untuk menyamakan kedudukan. Nathan Dyer, pemain debutan Leicester City, mencetak gol pada masa injury time yang membawa The Foxes membalikkan keadaan. Leicester City 3, Aston Villa 2.

Laga melawan Aston Villa bukanlah satu-satunya comeback yang berhasil dilakukan Leicester City setelah tertinggal dua gol. Pertandingan pekan ke-6 melawan Stoke dan pekan ke-9 melawan Southampton (keduanya berakhir imbang 2-2) seolah menjadi bukti bahwa Claudio Ranieri telah berhasil menanamkan di pikiran bawah sadar setiap pemainnya bahwa determinasi adalah harga mati.

4. Tim adalah segalanya

Riyad Mahrez sudah mencetak 2 gol pada 25 menit pertama laga melawan Sunderland. Hattrick sempat terlintas di kepala pemain asal Aljazair itu. Namun, ia segera menepisnya. Mahrez tidak memaksakan diri mencetak gol tambahan dan memilih bekerja untuk tim. Sampai pertandingan berakhir Mahrez tidak mencetak hattrick. Tapi ia tetap puas karena Leicester City menang.

Sikap Mahrez itu tidak terlepas dari pesan Claudio Ranieri; “I told Mahrez that it’s not important how many goals he scores, it’s about how he play for his team mates. If he does that, the goals will come from him.”

Salah satu filosofi Claudio Ranieri adalah menomorsatukan tim dibandingkan rekor pribadi. Namun begitu ia tak menutup mata bila ada satu pencapaian penting yang bisa diraih pemainnya. Pada laga pekan ke-14 ia meminta para pemain Leicester City meraih kemenangan dan secara khusus membantu Jamie vardy memecahkan rekor mencetak gol beruntun Liga Primer Inggris.

Pada laga melawan Manchester United itu Jamie Vardy berhasil memecahkan rekor sebagai pemain yang mampu mencetak gol secara beruntun dalam 11 laga Liga Primer Inggris.

Vardy berkesempatan menajamkan rekornya pada pekan ke-15 saat Leicester City tandang ke markas Swansea. Menerima operan dari Ulloa, Vardy mendapatkan bola di dalam kotak pinalti. Alih-alih menendang untuk mencoba mencetak gol Vardy memilih memberikan operan pendek kepada Mahrez yang berlari dari second line. Sepakan kaki kanan Mahrez mampu mengoyak jala lawan.

Pada pertandingan lawan Swansea itu rekor gol Vardy berhenti. Mahrez sendiri mencetak hattrick.

Para pemain Leicester City tampaknya menjalani filosofi Ranieri.

5. Bukan melulu hasil akhir

Sampai saat ini Arsenal adalah satu-satunya tim yang mampu mengalahkan Leicester City dalam laga kandang maupun tandang. Kekalahan pertama diderita Leicester City pada pekan ke-7 di King Power Stadium dengan skor mencolok 5-2. Claudio Ranieri tetap senang melihat penampilan pemainnya waktu itu.

Pun pada laga kedua di Emirates yang berkesudahan 2-1. Ranieri menganggap permainan Jamie Vardy dkk sudah berada di level tertinggi meskipun berakhir dengan kekalahan.

Bahkan, adakalanya pelatih asal Italia ini lebih menyukai penampilan Leicester City saat ditahan imbang lawan dibandingkan dengan laga lain di mana The Foxes mendapat tiga poin. Ranieri sangat percaya bahwa penampilan yang bagus lebih penting daripada sekadar kemenangan.

“I love when players give everything, that makes me very happy. Of course when you get the result it’s much better. But when you give everything, you can have everything,” Claudio Ranieri.

Pun dalam hal mencetak gol. Ranieri tidak terlalu risau ketika pada pekan ke-18 sampai 20 Leicester City nihil gol. Ia tidak melihatnya sebagai sebuah masalah. Sebuah gol tercipta dari peluang-peluang. Bila Leicester City mampu menciptakan peluang, Ranieri menganggapnya lebih dari cukup. Ia percaya gol akan datang dengan sendirinya.

6. Percaya

Setelah kekalahan 2-1 dari Arsenal pada pekan ke-26 Claudio Ranieri memberi “hadiah” kepada seluruh pemain Leicester City berupa libur selama sepekan. Hadiah itu, menurut Ranieri, pantas diberikan kepada seluruh pemain karena telah bekerja keras di setiap laga.

Ranieri sama sekali tak khawatir hal itu akan menurunkan kondisi kebugaran para pemainnya di tengah kompetisi yang sedang berjalan. Ia begitu percaya pada profesionalitas mereka.

Tak sekali ini Ranieri menaruh kepercayaan besar di pundak pemain. Shinji Okazaki, Jamie Vardy, dan Leonard Ulloa mungkin yang paling merasakannya.

Ranieri memang memberikan kepercayaan tinggi kepada para penyerang. Ia tidak mendikte bagaimana mereka harus bermain. Ranieri hanya menyarankan agar mereka berhati-hati dan terus mencoba meloloskan diri dari garis pertahanan musuh. Selanjutnya Ranieri meminta para penyerang mengeluarkan insting membunuh mereka.

**

Kemenangan atas Crystal Palace pada laga tanggal 19 Maret 2016 membuat Leicester City menjadi yang terdepan dalam saga perebutan juara Liga Primer 2015/2016. Tertinggal 5 poin di belakang mereka adalah Tottenham Hotspur. Masih ada 7 laga sebelum juara Liga Primer musim ini dapat ditentukan.

Secara teknik dan taktik Leicester City bukanlah yang terbaik, namun Claudio Ranieri membawa permainan ke level yang lebih tinggi; permainan psikologi. Semua pemain Leicester City yang bermain ngotot sepanjang 90 menit, juga puluhan ribu suporter The Foxes yang meraung keras selama pertandingan adalah “korban” sesungguhnya permainan psikologi Ranieri. Akankah hal itu akan membawa mereka juara?

“We’re Leicester. We’re not a team like Manchester City or Chelsea, five points or eight points clear clear that would be finished. For us, we have to fight, every match,”  Claudio Ranieri.

 

tulisan ini dimuat di fandom.id pada tanggal 29 Maret 2016.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s