Dominasi Babak Kedua Kunci Keunggulan Real Madrid Atas Juventus (terjemahan)

Artikel berikut ini merupakan terjemahan saya atas artikel dari website football analysis spielverlagerung.com . Salah satu situs terbaik memahami sepakbola. Foto : Matthias Hangst GETTY IMAGES.

*

Tahun ini partai puncak Liga Champions digelar di Cardiff. Juventus berupaya menghentikan Real Madrid memenangkan gelar Liga Champions ketiga mereka dalam empat tahun terakhir. PR, JD, dan EA memberikan ulasan bagaimana pertandingan berlangsung.

Hanya ada satu perubahan besar dalam susunan pemain masing-masing tim: Zinedine Zidane memilih Isco dibanding Bale, dan Barzagli dipilih oleh Allegri agar Dani Alves lebih sering berada di posisi yang lebih ke depan, posisi yang sama seperti laga melawan Monaco.

Awal Laga yang Ricuh

Pertandingan dimulai dengan intensitas yang bagus dengan Juventus menciptakan lebih banyak peluang pada momen-momen pembuka. Sebelum pertandingan sebagian besar orang menyoroti peran Dani Alves sebagai salah satu inisiator serangan Juventus, namun, pada menit-menit awal, kompatriotnya di timnas Brazil, Alex Sandro justru memberi lebih banyak pengaruh pada progresi bola Juventus.

Masing-masing tim pada dasarnya membentuk formasi asimetris, kemungkinan disebabkan kecenderungan tiap-tiap pemain kedua kesebelasan. Meski bentuk formasi Real Madrid, saat Isco atau Bale bermain, secara umum tidak berubah, namun pola pergerakan kedua pemain ini sangat berbeda.

Isco dan Cristiano Ronaldo mendapatkan kebebasan bermain di lapangan, meskipun begitu, keduanya lebih sering menyerang lewat halfspace sebelah kiri. Benzema berperan melakukan pergerakan-pergerakan untuk menciptakan ruang bagi mereka dan juga ruang bagi Marcelo yang kerap naik membantu penyerangan. Selain itu, Benzema juga sering turut serta dalam serangan yang dimulai dari sisi kiri.

Bentuk formasi Juventus berubah-ubah, antara 4-4-2 dan 3-4-3, tergantung apa yang terjadi di lapangan. Barzagli kerap bergerak ke pinggir sebagai reaksi pergerakan agresif Alves yang sering maju menyerang. Formasi ini memudahkan Juventus menciptakan akses pressing kepada Marcelo, juga memaksa Toni Kross kerap turun ke pertahanan sendiri untuk mengantisipasi umpan pemain Juventus kepada Dybala yang beroperasi di halfspace sebelah kanan.

Pertemuan dua bentuk formasi ini menciptakan 10 menit pertama yang menarik dan memberikan keuntungan bagi tim yang mampu dengan cepat mengubah aliran bola dengan cara yang tepat: yaitu Juventus.

Pada 10 menit pertama, mungkin karena efek psikologis pertandingan final, Madrid terlihat sering melakukan (counter)pressing agresif kepada gelandang-gelandang Juventus yang memegang bola dan menciptakan kompaksi horizontal di sekitarnya. Hal itu membuat Juventus sulit melakukan progresi serangan dari sisi kanan melalui Alves dan Dybala. Namun, saat Pjanic, dari tengah, dapat dengan cepat mengubah arah serangan, Modric akan dihadapkan pada pilihan untuk melakukan pressing kepada Khedira atau dengan cepat turun membantu pertahanan ke ruang dimana Alex Sandro biasanya akan menerima bola. Meskipun Modric dapat mengambil keputusan dengan tepat, jarak yang ia tempuh sangat jauh. Hal ini menyulitkan Modric untuk dapat melakukan cover dengan cepat. Akibatnya Juventus akan mendapatkan bola di sisi sebelah kiri sebelum pertahanan Real Madrid kembali ke dalam bentuk yang rapi.

Selain penerapan counterpressing yang baik, permasalahan di atas (mengcover jarak yang lebar) dapat diatasi dengan memiliki gelandang dengan kemampuan berlari yang baik, atau dengan memiliki bek sayap yang sering menekan maju dan bisa menarik lawan dengan syarat pemain lain bisa melakukan back up. Pada kasus ini, Mandzukic mampu membuat pergerakan-pergerakan cerdas dalam merespon situasi dan hal ini menjadi kunci kenapa perubahan arah serangan bisa memberikan keuntungan bagi Juventus. Saat dibutuhkan Mandzukic bisa menjadi agresif agar dapat menerima bola. Tetapi yang utama, Mandzukic kerap melakukan pergerakan untuk menarik Carvajal dan menciptakan ruang bagi Sandro yang bergerak maju.

Di samping beberapa alasan lainnya, hal-hal di atas menghasilkan banyak kejadian semi-transisi yang tak bisa dimanfaatkan kedua tim untuk dapat mengontrol pertandingan dengan nyaman. Tetapi, saat babak kedua, tempo pertandingan menurun dan ada lebih banyak waktu bagi tiap tim untuk mengatur posisi. Carvajal yang terus menekan dalam skema serangan Madrid menarik Mandzukic ke area belakang yang membuatnya tidak bisa membantu transisi penyerangan Juventus dengan cara yang sama seperti sebelumnya.

Strategi Real Madrid

Untuk memahami kesulitan yang Allegri hadapi dalam menyiapkan skema bertahan untuk pertandingan final ini, sangat penting untuk memahami strategi permainan Real Madrid. Tim Zidane pada dasarnya selalu berusaha membuat lawan kesulitan menciptakan sirkulasi bola yang nyaman untuk kemudian membuat progresi yang aman. Mereka selalu memiliki banyak pemain, biasanya tujuh pemain (empat bek tiga gelandang) untuk melindungi bola. Real Madrid lebih fokus meningkatkan kestabilan saat menguasai bola daripada menciptakan keunggulan posisi atas struktur Juventus. Kebanyakan lawan Real Madrid menjadikan bagian tengah sebagai fokus pertahanan utama, namun, Madrid justru lebih sering terlihat mengalirkan bola dalam bentuk U. Mereka mengalirkan bola dari satu sisi sayap ke sisi yang lain sebagai bagian dari rencana mereka menghindari lawan dan menciptakan kestabilan posisi saat memegang bola.

Dengan kedua bek tengah, Kroos, Modric, dan kedua bek sayap sering beroperasi di sisi luar blok lawan, jarak yang harus dicover lawan untuk mendapatkan akses ke bola menjadi sangat besar. Selain itu, sangat tidak mungkin pula menyisakan ruang di lini tengah karena adanya Isco dan Benzema, pemain yang bisa menghadirkan ancaman bagi setiap lawan. Memperoleh keseimbangan antara akses ke pemain Real Madrid yang berdiri di luar blok sembari melindungi pertahanan dari para penyerang Madrid sangatlah sulit.

Pendekatan Juventus

Menghadapi Real Madrid, pertahanan Juventus sering berada pada formasi 4-4-2-0 pasif, dengan formasi ini mereka tidak terlalu mendapatkan masalah karena para penyerang mereka berada dekat dengan second line, dan dengan demikian mampu menyediakan bantuan di half space dan mempunyai akses ke bek sayap ataupun gelandang tengah musuh. Dalam upaya meredam pengaruh gelandang-gelandang Real Madrid, posisi bertahan Juventus seringkali menjadi asimetris. Higuain akan menempatkan dirinya untuk menghalangi akses ke Casemiro, Dybala melakukan hal yang sama kepada Kroos, sementara Mandzukic, yang biasanya berada di sisi kiri akan tetap rapat untuk menjaga rekan senegaranya yang selalu bersemangat, Luka Modric. Hal ini menyebabkan formasi bertahan Juventus berubah ke 4-3-3-0 yang dengan fleksibel bisa menjadi 3-4-3 saat Sandro naik untuk menekan Carvajal.

Penempatan posisi pemain Juventus ini mendorong bek tengah Madrid mengalirkan bola menuju bek sayap. Saat bola diarahkan ke Marcelo atau Carvajal, Juventus akan melakukan pressing lebih tinggi, dengan pemain yang dekat dengan bola melakukan pressing kepada lawan terdekat. Madrid dengan demikian akan dipaksa untuk melakukan sirkulasi ulang. Hal ini menjadi pemicu Juventus mengubah pola bertahan mereka dari zona defensif menjadi man oriented.

Selain melakukan pressing ke lini pertahanan Madrid, penyerang-penyerang Juventus juga melakukan cover bayangan untuk mencegah terjadinya operan bola ke sisi sebaliknya, satu hal yang dapat membunuh momentum pressing mereka. Dengan melakukan hal ini pemain-pemain Juventus memaksa Madrid melakukan sirkulasi bola yang berisiko dan meningkatkan peluang Juventus mendapatkan kembali penguasaan bola.

Sekali bola dapat berpindah sisi, Madrid dipaksa mengalirkan bola ke tengah. Dalam situasi ini Juventus mengepung penerima bola dengan lebih banyak pemain. Kemampuan Juventus untuk merebut bola pada situasi ini tidak konsisten. Hal ini disebabkan tingginya press resistance para pemain Madrid yang membuat mereka mampu melindungi bola pada situasi yang sangat berisiko.

Pressing Menyempit Sayap Juventus

Untuk merespon pressing penyerang-penyerang Juventus, Modric dan Kroos turun jauh ke bawah dan bergerak melebar. Hal ini menyebabkan dua hal; terciptanya lebih banyak ruang di area tengah (jika penyerang-penyerang Juventus mengikuti) dan waktu memegang bola yang lebih lama.

Satu hal yang menarik dari skema pertahanan Juventus adalah pressing merapat dari pemain-pemain sayap. Madrid seringkali melakukan pertukaran bola antar half space melalui Kroos dan Modric untuk mengendalikan permainan dan menekan lawan. Untuk mengantisipasi pola seperti itu, gelandang sayap Juventus yang dekat dengan bola akan melakukan pressing dengan agresif kepada penerima bola, terutama pada sisi blind side. Hal ini memaksa gelandang Madrid mengembalikan bola ke pemain awal sekaligus mencegah mereka (gelandang Madrid) memindahkan bola ke sisi lainnya.

Skema ini lebih sering terjadi pada sisi sebelah kiri dimana Mandzukic berhasil mencegah Modric membangun serangan, daripada pada sisi Alves di bagian kanan. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh pemain yang berada di belakang mereka. Pada sisi kiri Juventus, bila Mandzukic berhasil dilewati, Sandro yang cepat maju dapat segera menekan Carvajal. Tetapi, pada sisi sebelah kanan, jika Alves dilewati, Barzagli yang tidak seagresif Sandro tidak segera menghadang Marcelo. Akibatnya, Kross mempunyai lebih banyak waktu saat menerima bola. Madrid lebih sering membangun serangan melalui pemain Jerman ini.

Ketika Kross menerima bola, Alves akan mencoba melakukan pressing dan menghambat umpan menuju Marcelo. Tetapi, hal ini membuka area tengah di sebelah Pjanic dimana penyerang-penyerang Madrid yang bergerak bebas (biasanya Isco) bergerak turun dan menjemput bola. Madrid jarang melakukan serangan langsung dari posisi ini, namun hal ini berguna untuk memaksa pemain Juventus bertahan lebih ke dalam.

Ketepatan waktu pressing dari Alves dan Mandzukic adalah kunci. Saat pemilihan waktunya tepat, mereka dapat menghambat upaya Madrid keluar dari tekanan, mendapatkan bola, atau memaksa Madrid untuk mengalirkan bola ke belakang.

Pola Serangan Real Madrid Pada Babak Pertama

Untuk ukuran Real Madrid, permainan gelandang mereka pada 15 menit awal pertandingan terhitung sangat hati-hati. Hal ini terlihat dari posisi Kroos yang sering sejajar dengan Marcelo. Saat salah satu dari kedua pemain ini (Kross atau Marcelo) memegang bola terdapat dua hal yang dilakukan pemain-pemain Juventus. Pertama, Dani Alves tidak akan menekan Kroos atau Marcelo sampai ia bisa melihat posisi keduanya, mempunyai akses pressing kepada mereka, dan cover dari Pjanic dan Higuain telah tersedia. Kedua, Barzagli hanya harus menjaga salah satu antara Benzema atau Isco.

Keterlibatan Isco, yang bermain di posisi no. 10 sebagian besar tidak membahayakan. Tugas pria spanyol ini sebenarnya sangatlah jelas Ia bertugas sebagai pemain utama yang memberikan bantuan di kedua sisi dengan menciptakan keunggulan jumlah yang diharapkan mampu menghasilkan keuntungan bagi Real Madrid. Ketahanan pressing Isco diharapkan dapat membantu Madrid mengobrak-abrik organisasi Juventus dan menekan Juventus, terutama dari sisi Barzagli. Tetapi, kecuali kemauan dan keaktifannya dalam pergerakan tanpa bola, Isco sama sekali tidak berguna dalam permainan kolektif Madrid.

Pada awal laga aksi Isco turun sampai setengah lapangan untuk meminta bola dari bek tengah, dan meski hal ini efektif, implikasinya bagi tim kurang optimal.

Dari satu sisi, hal ini membuat struktur penyerangan Madrid menjadi lebih datar karena sudah terlalu banyak pemain yang berada di belakang bola. Tugas utama Isco adalah membuat koneksi bersama Marcelo dan Kross di area half space. Tetapi, timing Isco dalam melepaskan umpan beberapa kali terlalu lambat, sehingga sangat mudah dipatahkan oleh pemain bertahan Juventus.

Hal ini adalah cara yang paling baik untuk memahami pentingnya timing melepas umpan dan kegunaan menempatkan diri di posisi yang tepat yang dapat menarik pemain bertahan lawan. Saat timing melepas umpan tidak tepat, pemain bertahan lawan tidak mengalami krisis pengambilan keputusan. Pemain bertahan dapat menebak kemana umpan diarahkan sehingga dapat melakukan tindakan antisipasi terhadap penerima bola dengan efisien.

Dalam kasus ini, kemauan Isco untuk bergerak kemana-mana di atas lapangan meninggalkan efek samping, dia tidak dapat membantu pemain lain saat dia seharusnya melakukannya, hal ini membuat pekerjaan bertahan Dani Alves menjadi lebih mudah.

Hal itu juga menyebabkan efek tambahan; seperti telah disebutkan di atas, timing Isco dalam memberikan bantuan di half space seringkali terlambat, sehingga memaksa Cristiano dan Benzema sendirian menciptakan peluang mengancam pertahanan Juventus. Hal ini menjadi tidak optimal karena ketahanan pressing dan kemampuan dribel mereka tidak sebaik Isco. Selain itu keberadaan dua penyerang di sisi penyerangan yang sama membuat manipulasi di lini pertahanan Juventus tidak efektif.

Performa Isco dalam membangun serangan saat memegang bola juga dipertanyakan. Walaupun dia beberapa kali mampu menerima bola di belakang Dani Alves, keputusan yang ia ambil setelahnya membuat aliran bola tidak optimal. Hal ini sebagian disebabkan provokasi kerapatan pertahanan Juventus dan pergerakan dari Pjanic dan Khedira yang memaksa Isco menggiring bola ke area sayap, yang pada akhirnya membuat penerima umpan Isco berikutnya terisolasi.

Berdasarkan beberapa hal di atas, tidak mengejutkan Real Madrid berjuang keras untuk menciptakan peluang atau bahkan sekedar mengalirkan bola ke sisi lapangan Juventus. Sebagai hasilnya, kebanyakan serangan Madrid berakhir dengan umpan-umpan melalui sayap yang dapat ditangani pemain-pemain Allegri dengan gampang.

Dengan berjalannya waktu, timing pemain-pemain Real Madrid dalam melepaskan umpan saat memulai serangan menjadi lebih baik dan konsisten. Hal ini agaknya karena adanya overload di sisi kiri permainan Madrid. Pada banyak kesempatan Benzema, Cristiano, dan Isco bergerak untuk menjadi opsi umpan di sisi ini. Dari sini, aliran bola dengan cepat dipindahkan ke sisi yang berlawanan dimana Carvajal dapat memanfaatkan keunggulan posisinya untuk melepas umpan.

Tetapi hal tersebut tidak memberikan banyak keuntungan karena dua alasan utama. Pertama, jarak yang harus ditempuh Sandro untuk melakukan cover sangat pendek. Pertahanan blok rendah Juventus, membuat Sandro bisa bertahan dengan proaktif dan agresif saat pertukaran arah serangan, khususnya saat perpindahan itu dilakukan dengan umpan panjang.

Alasan kedua berhubungan dengan posisi kolektif para pemain Real Madrid pada periode sebelumnya. Tiga pemain depan Madrid terlibat dalam periode awal penyerangan semua berada di sisi bagian kiri. Berdasarkan beberapa alasan yang telah disebutkan sebelumnya, dan pengambilan keputusan yang buruk, mereka tidak mampu menarik Sandro meninggalkan posnya, juga tidak bisa mengganggu formasi pertahanan Juventus di half space sebelah kanan. Hal ini yang kemudian membuat Carvajal terisolir. Lebih jauh, Sandro yang kerap mendapatkan bantuan dari Mandzukic membuat situasi 2 lawan 1 di sisi half space sebelah kanan.

Babak Kedua dan Peningkatan Real Madrid

Pada babak kedua, pemain-pemain Real Madrid lebih fokus membantu rekan mereka yang memegang bola di area sayap, khususnya pada sisi sebelah kiri dimana biasanya mereka membentuk struktur segitiga. Hal ini memberi Kroos pilihan mudah untuk melewati pressing Alves dengan mengalirkan bola menuju Marcelo lewat kerjasama dengan Isco atau Benzema.

Lebih jauh lagi, saat Marcelo menerima bola di area pertahanan sendiri, orang ketiga (antara Isco atau Ronaldo) masuk ke ruang antara Barzagli dan Bonucci dengan Marcelo mencoba menarik Alves. Hal ini kerap dilakukan Madrid di babak kedua yang membuat mereka memaksa Juventus bertahan lebih dalam dan membuat counterpressing menjadi lebih mudah dilakukan.

Setelah masa empat menit yang kejam, Real unggul 3-1. Setelah unggul, strategi Madrid menjadi lebih mudah berjalan setelah lawan semakin putus asa mendapatkan akses bola. Dengan sirkulasi yang dalam dan melebar, Madrid dapat menarik penyerang lawan dan membuka ruang di tengah untuk Isco dan Ronaldo. Dikombinasikan dengan lebarnya jarak yang harus ditempuh dan tensi pertandingan, hal ini membuat akses bola Juventus di babak kedua semakin melemah.

Pilihan Juventus melakukan pressing tinggi untuk mendapatkan kesempatan serangan balik dapatlah dimengerti. Hal ini sangat cocok dengan kemampuan Higuain dan Dybala, namun di sisi lain menimbulkan konsekuensi buruk bagi organisasi pertahanan tim Italia ini.

Sejak Higuain dan Dybala fokus pada kedua bek tengah Real Madrid, mereka tidak mampu menjangkau gelandang tengah dan bek sayap Madrid. Hal ini memaksa Mandzukic dan terutama Dani Alves untuk bergerak lebih tinggi untuk menutup mereka. Saat Kroos dan Marcelo mulai berhasil membaca hal itu, pertandingan berada di tangan tim Spanyol.

Penghindaran pressing Alves melalui pergerakan orang ketiga dan pendekatan yang jauh lebih baik dari Isco (beberapa kali Cristiano) dalam melakukan sirkulasi bola membuat Madrid menempatkan Marcelo dalam posisi yang menguntungkan. Dari sini, kerjasama antara Marcelo dan Isco untuk kemudian memindahkan bola ke sisi Carvajal, yang pada babak kedua tampil lebih baik saat berhadapan dengan Sandro, menjadi awal serangan cepat Madrid. Umpan-umpan cepat antara Marcelo-Isco ataupun penetrasi dengan bola mereka membuat struktur pertahanan Juventus tidak stabil. Gelandang kiri Juventus tidak mampu berbuat apa-apa karena jarak yang dibutuhkan untuk melakukan cover sangat jauh. Hal ini menyebabkan gelandang tengah Madrid mampu bergerak lebih tinggi, membuat struktur penyerangan mereka di lapangan Juventus menjadi lebih baik dan pada saat bersamaan Juventus dipaksa mundur sampai sepertiga akhir lapangan.

Ada dua faktor lain yang menunjang keberhasilan taktik yang dijelaskan di atas:

Pertama, peran Cristiano dan lebih khususnya Benzema dalam menggerakkan dan menekan keseluruhan garis pertahanan Juventus dengan berada di kedalaman dan menyediakan diri untuk menjadi opsi umpan. Hal ini mencegah pemain bertahan Juventus untuk maju dan memberikan cover dan membuat mereka kesulitan menyesuaikan diri dari pressing penyerang Madrid. Hal ini merupakan kelebihan utama Benzema dan Ronaldo. Mereka selalu tersedia menjadi opsi umpan di daerah half space, juga dapat menarik pergerakan gelandang-gelandang tengah Juventus.

Kedua, sebuah peluang tidak mungkin tercipta tanpa adanya pemain dengan skill individu tinggi. Pemain-pemain Madrid berhasil memanfaatkan kondisi sekecil dan sesingkat mungkin untuk dengan cepat melakukan kerjasama ataupun giringan untuk melewati lini tengah Juventus. Sangat layak untuk memberi penghargaan yang tinggi kepada penampilan Kroos dalam mengalirkan bola dan ketepatan waktunya melepas umpan kepada pemain Madrid yang tak terjaga.

Secara khusus, penguasaan bola saat melakukan penyerangan banyak diperoleh Madrid dari kemampuan Isco menghadapi pressing pemain-pemain Juventus, satu hal yang sangat menguntungkan bagi Real Madrid. Hal ini tidak menghasilkan keuntungan secara langsung karena peluang yang dihasilkan seringkali dapat dimentahkan. Tetapi, penguasaan bola yang dikombinasikan dengan pemain-pemain dengan skill tinggi sudah cukup untuk menghasilkan beberapa kesempatan emas. Hal itu juga memberi banyak waktu bagi pemain lain untuk mendekat ke kotak pinalti sehingga meningkatkan peluang mendapatkan bola-bola kedua dan secara efektif menunjang skema counterpress.

Kesimpulan

Setelah babak pertama yang berimbang, Real Madrid dapat menang dengan nyaman setelah begitu dominan di babak kedua. Hal ini membuat mereka memenangkan Liga Champions dua musim berturut-turut dan yang ketiga dalam empat tahun.

Kurangnya jumlah ‘tim super’ menyebabkan hal itu terjadi, tentu saja hal ini menjadi perdebatan. Kamu hanya dapat mengalahkan lawan yang kamu hadapi. Dalam kasus ini, Juventus memiliki sebuah tim yang kuat di berbagai posisi yang akhirnya dapat dibongkar oleh Los Blancos.

Sesungguhnya, tugas utama manajer Real Madrid adalah menciptakan suasana dimana semua pemain dapat bersatu untuk mengeksekusi pola permainan dengan cara yang paling menguntungkan. Berkaca dari manajer-manajer sebelumnya, hal ini bukanlah pekerjaan yang mudah, dan Zidane dengan jelas dapat menikmati hasil dari suasana yang ia ciptakan.

Disamping penampilan babak kedua yang sangat kuat dan keberhasilan meraih trophy Liga Champion, masih terdapat banyak pertanyaan mengenai penampilan mereka di masa mendatang. Akan sangat menarik melihat bagaimana Madrid, dan lawan-lawan mereka, bereaksi dan beradaptasi terhadap upaya Madrid meraih tropi Liga Champions mereka ketiga kali berturut-turut, satu hal yang gampang diucapkan namun sangat sulit dilakukan.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s